Exception Handling dalam Java Programming

Pengertian

Perbedaan antara Class Error dan Class Exception di java

Keyword penting pada exception handling

I. Pengertian

Pada dasarnya, Exception merupakan subkelas dari kelas java.lang.Throwable.  “Bukalah dokumentasi java untuk lebih menyakinkan anda”. Karena Exception adalah sebuah kelas maka hakikatnya ketika program berjalan dan muncul sebuah bug atau kesalahan maka bug tersebut dapat dianggap sebuah object.  Sehingga ketika object ini di tampilkan di layar maka java akan secara otomatis memanggil method toString yang terdapat dalam object bertipe Exception ini. Java memberikan akses kepada developer untuk mengambil object bug yang terjadi ini dengan mekanisme yang dikenal Exception HandlingException handling merupakan fasilitas di java yang memberikan flexibilitas kepada developer untuk menangkap bug atau kesalahan yang terjadi ketika program berjalan. Contoh Exception Handling akan dibahas pada bagian berikutnya.

II. Perbedaan antara Class Error dan Class Exception di java

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa kelas Exception merupakan kelas turunan dari kelas Throwable di package Java.Lang. Selain Exception, java.lang.Throwable juga memiliki subclass yaitu class Error. Tentu, kita bertanya-tanya, sebetulnya apa sih perbedaan antara class Error dengan class Exception.

Penjelasan dari Class Error :

“An Error is a subclass of Throwable that indicates serious problems that a reasonable application should not try to catch. Most such errors are abnormal conditions” (JDK 5.0 Documentation)

Penjelasan dari class Exception :

“The class Exception and its subclasses are a form of Throwable that indicates conditions that a reasonable application might want to catch. “ (JDK 5.0 Documentation)

Seperti dari penjelasan yang diberikan oleh JDK Documentation, maka dapat kita lihat bahwa error dan exception pada dasarnya berbeda. Error merupakan masalah yang muncul tapi tidak ada alasan yang kuat untuk menangkapnya. Sedangkan Exception merupakan kesalahan kecil yang muncul dan ingin diperlakukan sesuai keinginan developer.

III. Keyword penting pada exception handling

Ada 5 keyword penting dalam java dalam hal exception handling :

1. try

Keyword ini biasanya digunakan dalam suatu block programkeyword ini digunakan untuk mencoba menjalankan block program kemudian mengenai dimana munculnya kesalahan yang ingin diproses. Keyword ini juga harus dipasangkan dengan keyword catch atau keyword finally yang akan dibahas pada point kedua dan ketiga.

Contoh penggunaan :

package com.me.vd.main;
public class pbo06 {
public static void main(String[] args) {
try {
int a = 1 / 0; // berpotensi untuk menimbulkan kesalahan yaitu// pembagian dengan bilangan 0
System.out.println(“perintah selanjutnya”);
}catch (Exception kesalahan){
System.err.println(kesalahan);
}
}
}

Output :

java.lang.ArithmeticException: / by zero

Perhatikan contoh diatas, ada beberapa hal penting yang perlu dilihat. Pertama, block program yag diyakini menimbulkan kesalahan maka ada di dalam block try and catch.Kedua, kesalahan yang muncul akan dianggap sebagai object dan ditangkap catch kemudian di assign ke variable kesalahan dengan tipe Exception. Ketiga, perintah setelah munculnya kesalahan pada block try tidak akan dieksekusi.

2. catch

Jika anda sudah melihat contoh try maka secara tidak langsung anda sudah memahami kegunaan dari keyword ini. Dalam java, keyword catch harus dipasangkan dengan try. Kegunaan keyword ini adalah menangkap kesalahan atau bug yang terjadi dalam block try. Setelah menangkap kesalahan yang terjadi maka developer dapat melakukan hal apapun pada block catch sesuai keinginan developer. Contoh Program :

catch(Exception kesalahan){
System.out.println(“mohon maaf, terdapat kesalahan pada program”);//lakukan hal lainnya disini
}

Keyword catch juga dapat diletakan berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan. Contoh :

package com.me.vd.main;
public class pbo06 {
public static void main(String[] args) {
try{
int a = 1/0;  //berpotensi untuk menimbulkan kesalahan yaitu pembagian dengan bilangan 0
System.out.println(“perintah selanjutnya”);
}catch(NullPointerException e){
}catch(ArrayIndexOutOfBoundsException e){
}catch(Exception e){
}
}
}

3. finally

Keyword ini merupakan keyword yang menunjukan bahwa block program tersebut akan selalu dieksekusi meskipun adanya kesalahan yang muncul atau pun tidak ada. Contoh implementasinya pada program :

package com.me.vd.main;
public class pbo06 {
public static void main(String[] args) {
try{
//int a = 1/0;
}
finally{
System.out.println(“terima kasih telah menjalankan program”);
}
}
}

Output Program diatas:

terima kasih telah menjalankan program

Jika saya lakukan modifikasi program diatas menjadi  :

package com.me.vd.main;
public class pbo06 {
public static void main(String[] args) {
try{
int a = 1/0;
}catch (Exception e){
System.out.println(“ada kesalahan yang muncul”);
}
finally{System.out.println(“terima kasih telah menjalankan program”);
}
}
}

Output Program :

ada kesalahan yang muncul

terima kasih telah menjalankan program

Perhatikan kedua contoh diatas, block finally akan selalu dieksekusi meskipun adanya kesalahan atau tidak pada block try. Berbeda dengan keyword catch keyword finally hanya dapat diletakan 1 kali setelah keyword try.

4. throw

Keyword ini digunakan untuk melemparkan suatu bug yang dibuat secara manual. Contoh program :

package com.me.vd.main;
public class pbo06 {
public static void main(String[] args) {
try{
throw new Exception(“kesalahan terjadi”);
}
catch(Exception e){
System.out.println(e);
}
}
}

Output Program :

java.lang.Exception: kesalahan terjadi

Seperti yang anda lihat pada program diatas, pada keyword throw new Exception(“kesalahan terjadi”); akan melempar object bertipe exception yang merupakan subclass dari class Exception sehingga akan dianggap sebagai suatu kesalahan yang harus ditangkap oleh keyword catch.

Perhatikan contoh berikut ini :

package com.me.vd.main;
public class pbo06 {
public static void main(String[] args) {
try{
throw new B(); //cobalah  ganti baris ini dengan à new B();
}catch(Exception e){
System.out.println(e);
}
}
}class B extends Exception{
B(){
}
public String toString(){
return “object dengan tipe kelas B”;
}
}

Output Program :

object dengan tipe kelas B

Program diatas telah mendefinisikan suatu kelas B mengextends dari kelas Exception. Ketika kita melakukan throw new B(); maka object dari kelas bertipe B ini akan dianggap kesalahan dan ditangkap oleh block catch. Sekarang jika anda menghilangkan keyword throw apa yang terjadi?.

5. throws

Keyword throws digunakan dalam suatu method atau kelas yang mungkin menghasilkan suatu kesalahan sehingga perlu ditangkap errornya. Cara mendefinisikannya dalam method adalah sebagai berikut : <method modifier> type method-name throws exception-list1, exceptio-list2, … {}.

Contoh Program :

package com.me.vd.main;
public class pbo06 {
public static void main(String[] args) {
try{
f()
;
}catch(Exception e){
System.out.println(e);
}
}
public static void f() throws NullPointerException, ArrayIndexOutOfBoundsException{
//implementasi method
throw new NullPointerException();

// throw new ArrayIndexOutOfBoundsException();
}
}

Output Program :

java.lang.NullPointerException

Contoh program lainnya :

package com.me.vd.main;
public class pbo06 {
public static void main(String[] args) {
try{f();
}catch(Exception e){
System.out.println(e);
}
}
public static void f() throws NullPointerException, ArrayIndexOutOfBoundsException{
//implementasi method
//throw new NullPointerException();
throw new ArrayIndexOutOfBoundsException();}}

Output Program :

java.lang.ArrayIndexOutOfBoundsException

Perhatikan kedua contoh pengguaan keyword throws pada method. Ketika method tersebut dipanggil dalam block try. Maka method tersebut akan membuat object yang merupakan subclass dari class Throwable dan method tersebut akan melemparkan kesalahan yang ada dalam block method kedalam block try. Di dalam block try, kesalahan tersebut kemudian ditangkap kedalam block catch.

info : Wa :

10 Exception yang Paling Sering Muncul di Aplikasi Java

1. NullPointerException

NullPointerException (NPE) adalah exception yang paling sering muncul. Sir Charles Antony Richard Hoare, pencipta Null Reference sendiri mengatakan bahwa penciptaan null reference pada tahun 1965 adalah sebuah kesalahan yang menyebabkan kerugian yang sangat besar hingga terciptalah istilah one billion dollars mistake.

2. NumberFormatException

Diposisi kedua adalah NumberFormatException yang terjadi saat kita mencoba mengubah String menjadi nilai angka namun String tersebut tidak terformat dengan benar. Misalnya, kita ingin mengubah String kosong untuk menjadi Integer, maka proses perubahan ini bisa menyebabkan NFE terjadi.

3. IllegalArgumentException

Exception ini muncul saat kita memanggil suatu method dengan mengirimkan parameter yang tidak sesuai. Misalnya suatu method meminta parameter bertipe X sedangkan kita mengirimkan data bertipe Y sebagai parameternya. Error ini muncul karena method tersebut tidak dapat memproses parameter yang dikirim.

4. RuntimeException

RuntimeException adalah jenis error yang muncul saat program sedang berjalan dan tidak memberikan compilation error. Sebagai salah satu jenis unchecked exception, RuntimeException tidak bisa dicegah lewat kode.

Salah satu contohnya adalah saat kita mencoba membagi sesuatu dengan angka 0, maka akan muncul ArithmeticException (kelas ini meng-extends RuntimeException). Error karena pembagian dengan angka nol ini tidak bisa diperiksa saat proses kompilasi dan hanya akan terdeteksi saat program sudah berjalan.

5. IllegalStateException

Sebuah IllegalStateException terjadi saat kita mencoba memanggil method diwaktu yang salah. Misalnya, saat kita menggunakan URLConnection untuk terhubung kembali ke alamat yang sudah terhubung kita akan mendapat “IllegalStateExceptionAlready Connected“.

6. NoSuchMethodException

Error ini muncul saat kita mencoba memanggil method yang tidak ada.

7. ClassCastException

ClassCastException terjadi saat kita mencoba mengubah sebuah kelas menjadi kelas lain yang bukan instance-nya. Kita tidak bisa mengubah suatu objek menjadi objek bertipe kelas yang tidak ia wariskan.

8. Exception

Exception adalah kelas utama dimana semua jenis Exception mewariskannya. Java tidak pernah memanggil Exception secara langsung. Ia muncul bisa jadi karena kita atau pihak ketiga memanggilnya secara eksplisit.

9. ParseException

ParseException muncul saat kita mencoba mengubah String menjadi data tertentu tapi String tersebut tidak terformat dengan benar. Exception ini bisa kita hindari dengan memeriksa terlebih dahulu String tersebut apakah sudah terformat dengan benar atau belum.

10. InvocationTargetException

InvocationTargetException terjadi apabila sebuah method atau konstruktor yang kita panggil menyebabkan suatu exception terpanggil.

Referensi: geeksforgeeks.orgOverOps

Arti Sahabat

Nama :Arisandi
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi
itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.Persahabatan sering menyuguhkan
beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama
karenanya.
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang
seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan
diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan,
didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan
kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan,
justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah
membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan
tujuan sahabatnya mau berubah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha
pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita
memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi
justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada
persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati,
namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati
indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Beberapa hal seringkali menjadi penghancur persahabatan antara lain :

  1. Ketidakterbukaan
  2. Kehilangan kepercayaan
  3. Perubahan perasaan antar lawan jenis
  4. Ketidaksetiaan.
    Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan oleh sahabat-sahabat yang
    teruji kesejatian motivasinya. Renungkan :
    Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri “Dalam masa kejayaan, teman2 mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman2 kita.”
    Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda ??
    Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai?? Siapa yang menjadi tameng untuk
    urusan rahasia Anda, diwaktu ada masalah dengan keluarga anda.?? Siapa yang ingin bersama anda
    pada saat tiada satupun yang dapat anda berikan ?? Merekalah sahabat2 anda. Hargai dan
    peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.

Pulang Lah Nak, Berbakti pada Ibu-mu

Semua orang tua pasti ingin dekat dengan anak-anaknya, terutama di masa tua dan masa sepuh mereka. Setiap orang tua, terutama ibu pasti sangat ingin berada bersama anak-anak yang sangat ia cintai. Tidak jarang sang ibu meminta anaknya agar tidak tinggal jauh darinya atau agar tidak tinggal di luar kota, atau sang ibu meminta anaknya agar segera pulang ke kampung masa kecilnya untuk menemani orang tua dan ibunya.

Kasih Sayang Ibu Tidak Lekang Oleh Jarak dan Waktu

Sekiranya sang ibu mengatakan:
“Ibu sih terserah kamu nak, jika di kota A kamu lebih sukses, ibu hanya bisa mendoakan kamu dari kampung masa kecilmu ini”

Ketauhilah, ketika engkau memilih bertahan di kota A, hati ibumu sangat kecewa sekali tetapi ia berusaha menguatkan diri dan tersenyum di depan mu dan tentunya selalu mendoakanmu, buah hati tercinta.

Saudaraku, meskipun kita sukses di kota A atau merasa sangat senang dan nyaman tinggal di kota A, jika engkau ada kesempatan tinggal bersama orang tua khususnya ibumu, maka pulang lah, temani ibumu dan berbaktilah. Mereka lah yang menjadikan engkau suskes dan berhasil dengan izin Allah

Catatan: berbakti pada ibu adalah prioritas utama anak laki-laki, adapun anak perempuan yang sudah menikah, maka ia mengikuti suaminya.

Jangan Sia-Siakan Kesempatan Berbakti Kepada Ibu

Berbaktilah kepada kedua orang tua kita, terutama ibu, karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu amalan yang paling mudah memasukkan seseorang ke surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪُ ﺃَﻭْﺳَﻂُ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﺈِﻥْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺄَﺿِﻊْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺒَﺎﺏَ ﺃَﻭِ ﺍﺣْﻔَﻈْﻪُ

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad, hasan)

Maksud pintu yang paling tengah adalah pintu yang palong mudah dimasuki. Perhatikan jika ada tembok di depan kita, lalu ada pintu di tengah, di samping pinggir kanan dan kiri, tentu secara psikologi kita akan pilih yang tengah karena mudah untuk memasukinya.

Mengapa mudah berbakti pada orang tua, terurama ketika mereka sudah tua? Karena orang yang sudah tua sudak tidak menginginkan “gemerlapnya dunia” lagi.

Ibu Merindukan Kehadiranmu, Nak!

Mereka sudah tidak minta pada anaknya makanan-makanan lezat karena lidah mereka mungkin sudah kaku
Mereka sudah tidak minta pada anaknya jalan-jalan yang jauh karena kaki sudah mulai rapuh
Mereka sudah tidak minta kepada anaknya perhiasan dunia karena mata mulai merabun

Yang mereka inginkan hanyalah engkau menemani mereka, mengajak ngobrol, membawa cucu-cucu mereka untuk bermain dengan mereka. Suatu perkara yang cukup mudah dengan balasan yang surga Allah

Saudaraku, karenanya sangat celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya sudah tua dan sepuh tetapi tidak masuk surga, karena tidak memanfaatkan amalan yang cukup mudah yaitu berbakti kepada mereka kemudian masuk surga.

Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [HR. Muslim 2551]

Baktimu untuk Ibu adalah Kewajiban

Perintah berbakti kepada orang tua terutama ibu

Allah memerintahkan kepada kita dalam Al-Quran agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bagaimana pengorbanan dan perjuangan ibu untuk anaknya. Beliau menafsirkan,

وقال هاهنا {ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن} . قال جاهد: مشقة وهن الولد. وقال قتادة: جهدا على جهد. وقال عطاء الخراساني: ضعفا على ضعف

“Mujahid berkata bahwa yang dimaksud [“وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ”] adalah kesulitan ketika mengandung anak. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dengan penuh usaha keras. ‘Atha’ Al Kharasani berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”[Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 6/336,]

Demikian juga firman Allah,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Al-Ahqaaf : 15)

Pengorbanan Ibu Tidak Akan Terbalas

Diriwayatkan Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”[Adabul Mufrad no. 11, shahih]

Az-Dzahabi rahimahullah menyusun sebuah tulisan yang sangat menyentuh mengenai jasa dan pengorbanan ibu dan motivasi agar kita berbakti pada ibu. Beliau berkata,

حملتك في بطنها تسعة أشهر كأنها تسع حجج و كابدت عند الوضع ما يذيب المهج و أرضعتك من ثديها لبنا و أطارت لأجلك وسنا و غسلت بيمينها عنك الأذى و آثرتك على نفسها بالغذاء و صيرت حجرها لك مهدا و أنالتك إحسانا و رفدا فإن أصابك مرض أو شكاية أظهرت من الأسف فوق النهاية و أطالت الحزن و النحيب و بذلت مالها للطبيب و لو خيرت بين حياتك و موتها لطلبت حياتك بأعلى صوتها هذا و كم عاملتها بسوء الخلق مرارا فدعت لك بالتوفيق سرا و جهارا فلما احتاجت عند الكبر إليك جعلتها من أهون الأشياء عليك فشبعت و هي جائعة و رويت و هي قانعة و قدمت عليها أهلك و أولادك بالإحسان و قابلت أياديها بالنسيان و صعب لديك أمرها و هو يسير و طال عليك عمرها و هو قصير هجرتها و مالها سواك نصير هذا و مولاك قد نهاك عن التأفف و عاتبك في حقها بعتاب لطيف ستعاقب في دنياك بعقوق البنين و في أخراك بالبعد من رب العالمين يناديك بلسان التوبيخ و التهديد ( ذلك بما قدمت يداك و أن الله ليس بظلام للعبيد )

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (Al-Hajj : 10) [Al-Kaba’ir hal. 39, Darun Nadwah]

Semoga Allah Ta’ala Memudahkan Kita untuk Berbakti pada Ibu

Semoga kita termasuk orang yang bisa berbakti kepada orang tua khususnya ibu. Semoga kita termasuk orang yang tidak melupakan jasa-jasa ibu kita. Semoga anak-istri dan pekerjaan kita tidak menyibukkan kita dan melalaikan kita untuk berbakti dan memberikan perhatian kepada ibu kita. Ingatlah di masa kecil kita sangat sering membuat susah orang tua terutama ibu kita, bersabarlah ketika berbakti kepada keduanya

Kelezatan Ilmu Syar’i Vs. Konser Musik

Puluhan ribu orang menghadiri tabligh akbar Fadhilatusy Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr hafidzahumallah (Guru Besar Universitas Islam Madinah dan Pengajar  tetap di Masjid Nabawi, Kota Al-Madinah An-Nabawiyyah) di Masjid Istiqlal, Jakarta, belum lama ini. Jumlah yang sebanding atau mungkin jauh lebih banyak daripada jumlah yang menghadiri konser-konser nyanyian dan musik. Hal ini seolah mengingatkan kita pada semangat para ulama dan orang-orang zaman dahulu yang belajar ilmu agama, ketika majelis-majelis ilmu para ulama biasa dihadiri oleh puluhan ribu orang, meskipun sarana transportasi dan pengeras suara ketika itu tentu masih sangat terbatas [1]. Inilah kenikmatan dan kelezatan yang diraih para salaf dahulu, yaitu kenikmatan tholabul ‘ilmi syar’i (menuntut ilmu agama), yang semakin langka didapatkan pada zaman yang penuh kemewahan dunia ini.

Kelezatan Menuntut Ilmu Syar’i

Sesungguhnya, kelezatan dan kenikmatan yang hakiki tidak terletak pada makanan, tidur, minuman, atau hubungan badan. Mengapa? Karena berbagai kelezatan dan kenikmatan ini adalah kenikmatan jasad semata yang juga dimiliki oleh binatang. Kenikmatan yang hakiki hanyalah terletak pada ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala, kenikmatan tholabul ‘ilmi, yaitu kenikmatan yang dirasakan oleh hati dan ruh. Kenikmatan ini hanyalah dirasakan oleh orang beriman, dan tidak dirasakan oleh makhluk yang lainnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَالنِّعْمَةُ نِعْمَتَانِ: نِعْمَةٌ مُطْلَقَةٌ وَنِعْمَةٌ مُقَيَّدَةٌ. فَالنِّعْمَةُ الْمُطْلَقَةُ: هِيَ الْمُتَّصِلَةُ بِسَعَادَةِ الْأَبَدِ وَهِيَ نِعْمَةُ الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ وَهِيَ النِّعْمَةُ الَّتِي أَمَرَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنْ نَسْأَلَهُ فِي صَلَاتِنَا أَنْ يَهْدِيَنَا صِرَاطَ أَهْلِهَا

Nikmat itu ada dua, (yaitu) nikmat muthlaqoh (nikmat yang bersifat mutlak) dan (nikmat) muqoyyadah (nikmat yang bersifat relatif)). Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam dan Sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita agar Alloh menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu kepadanya.” [2]

Para ulama salaf kita yang mulia telah menyadari hal ini. Mereka telah merasakan kelezatan dengan menuntut ilmu syar’i, menikmati membolak-balik lembaran kitab, dan mereka pun telah merasakan “kenikmatan” dalam berbagai derita yang mereka alami di jalan ilmu. Bahkan, kelezatan yang mereka rasakan dengan menghafal hadits nabawi; menemukan jalan keluar permasalahan-permasalahan ilmiah; begadang untuk menulis pembahasan ilmu syar’i; atau menulis kitab yang bermanfaat untuk umat, adalah lebih besar daripada kelezatan yang diraih oleh para ahli maksiat dengan maksiat yang dia lakukan atau lebih besar dari perhiasan ahli dunia dengan berbagai dunia, istri, dan harta-harta mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمن لم يغلب لَذَّة إِدْرَاكه الْعلم وشهوته على لَذَّة جِسْمه وشهوة نَفسه لم ينل دَرَجَة الْعلم ابدا فَإِذا صَارَت شَهْوَته فِي الْعلم ولذته فِي كل إِدْرَاكه رجى لَهُ ان يكون من جملَة اهله وَلَذَّة الْعلم لَذَّة عقلية روحانية من جنس لَذَّة الْمَلَائِكَة وَلَذَّة شهوات الاكل وَالشرَاب وَالنِّكَاح لَذَّة حيوانية يُشَارك الانسان فِيهَا الْحَيَوَان

”Barangsiapa yang tidak bisa memenangkan kelezatan mengenal ilmu dan syahwat (terhadap ilmu) di atas kelezatan badan dan nafsu syahwatnya, maka dia tidak akan meraih derajat ilmu sama sekali. Apabila syahwatnya tertuju pada ilmu dan kelezatannya tertuju pada meraih ilmu tersebut, maka bisa diharapkan bahwa dia termasuk dalam orang yang berilmu. Kelezatan menuntut ilmu adalah kelezatan bagi akal dan ruh, sejenis dengan kelezatan (yang dirasakan) malaikat. Adapun kelezatan syahwat, makanan, minuman, dan hubungan badan adalah kelezatan  khayawaniyyah (kebinatangan), yang di dalamnya bersekutu antara manusia dan hewan. [3]

Bagaimanakah para Ulama Salaf Meraih Kelezatan Ilmu Syar’i

Pada suatu malam Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad An-Nisfi rahimahullah tidak bisa tidur karena pikirannya sedang sedih dan susah memikirkan kemiskinannya dan hutangnya yang sangat banyak. Ketika beliau dalam keadaan seperti itu, terlintas dalam benaknya suatu masalah ilmiah yang membingungkan dirinya. Maka dia pun memikirkan dan menelaah masalah tersebut, serta melupakan kondisi kemiskinannya. Maka Allah Ta’ala pun membukakan dan memudahkan beliau untuk menemukan jawabannya. Beliau langsung bangkit di kegelapan malam dan bersuka cita karena sangat gembira.  Beliau berkata,”Di manakah raja?? … Di manakah raja??” Istrinya bertanya kepada beliau, dan beliau pun mengabarkan kepada istrinya itu tentang jawaban suatu masalah yang telah beliau temukan.  Istrinya pun sangat terkejut, karena dia mengira bahwa suaminya bersuka cita karena menemukan jalan keluar atas kemiskinan dan hutang-hutangnya. [4]

Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam rahimahullah menulis kitab Ghoribul Hadits selama empat puluh tahun. Beliau menceritakan kondisinya saat menulis kitab tersebut. Beliau berkata,”Terkadang aku menemukan faidah dari perkataan para ulama. Maka aku tambahkan faidah itu di kitabku. Sampai-sampai aku begadang sepanjang malam karena sangat gembira mendapatkan faidah itu”. [5]

Abul Ma’aali Al-Juwaini rahimahullah berkata,”Aku tidak memiliki waktu makan dan minum secara khusus. Aku tidur jika memang sudah sangat mengantuk, baik di siang hari maupun malam hari.  Aku makan jika muncul keinginan untuk makan pada saat kapan saja. Kenikmatan, permainan dan hiburanku adalah dengan memikirkan ilmu dan meraih faidah.” [6]

Nadzr bin Syamiil rahimahullah berkata,”Seseorang tidaklah mendapatkan kelezatan ilmu sampai dia lapar dan melupakan rasa laparnya”. [7]

Kenikmatan yang telah diraih para ulama di atas dengan ilmu mereka telah mengalahkan berbagai kenikmatan duniawi lainnya, termasuk kenikmatan dan kecintaan musik dan nyanyian. Kenikmatan seseorang dalam aktivitas tholabul ‘ilmi akan menyingkirkan dan mengalahkan kenikmatan dan kecintaan terhadap musik dan nyanyian. Taruhlah jika pada zaman dahulu sudah ada konser-konser musik, maka akal sehat dan fitrah yang bersih akan cenderung meng-asosiakan konser-konser musik itu dengan orang-orang yang terhalang dari meraih kelezatan ilmu dan ibadah. Adapun para ulama, orang-orang yang shalih, tentu mereka akan memilih menghadiri majelis-majelis ilmu, karena di situlah letak kelezatan dan kebahagiaan mereka di dunia ini.

Kecintaan seseorang terhadap musik dan nyanyian akan menyingkirkan kecintaan terhadap ilmu, dan juga kecintaan terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidaklah mungkin kecintaan terhadap ilmu dan kecintaan terhadap musik dan nyanyian akan berkumpul dalam satu jiwa yang sama. Realita kaum muslimin saat ini menunjukkan, didorong oleh rasa cinta mereka terhadap musik dan nyanyian, mereka sampai hapal puluhan lirik lagu (dan siapa penyanyinya) dengan begitu mudahnya, namun mereka sulit untuk diajak menghapal Al-Qur’an. Maka benarlah bahwa nyanyian merupakan salah satu cara setan untuk menjauhkan manusia dari jalan ilmu, jalan Allah Ta’ala.

Allah Ta’alaberfirman,

ζ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)

Tentang maksud dari firman Allah Ta’ala “perkataan yang tidak berguna” dalam ayat di atas, salah seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,”Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia semata, (yang dimaksud dengan ‘perkataan yang tidak berguna’) adalah nyanyian”. Beliau mengulangi sumpahnya tersebut sampai tiga kali. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ma’khul, Amr bin Syu’aib, dan Ali bin Badzimah radhiyallahu ‘anhum[8]

Semoga Allah Ta’ala memberikan anugerah kepada kita untuk tetap istiqomah dalam meraih kelezatan dan kenikmatan ilmu syar’i.

Selesai disusun ba’da isya’, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 28 Jumadil Ula 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

60 Adab Dalam Menuntut ILmu

Makna adab

Adab secara bahasa artinya menerapakan akhlak mulia. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan:

وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ

“Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia” (Fathul Bari, 10/400).

Dalil wajibnya menerapkan adab dalam menuntut ilmu

Dalil-dalil dalam bab ini ada mencakup:

1. Dalil-dalil tentang perintah untuk berakhlak mulia

Diantaranya:

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا

“Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata: “hasan shahih”).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّما بعثتُ لأتمِّمَ مَكارِمَ الأخلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 45).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ أثقَلَ ما وُضِع في ميزانِ المؤمِنِ يومَ القيامةِ خُلُقٌ حسَنٌ وإنَّ اللهَ يُبغِضُ الفاحشَ البذيءَ

“Sesungguhnya perkara yang lebih berat di timbangan amal bagi seorang Mu’min adalah akhlak yang baik. Dan Allah tidak menyukai orang yang berbicara keji dan kotor” (HR. At Tirmidzi no. 2002, ia berkata: “hasan shahih”).

2. Dalil-dalil tentang perintah untuk memuliakan ilmu dan ulama

Diantaranya:

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS. Al Hajj: 30).

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj: 32).

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS. Al Ahzab: 58).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ

“Sesungguhnya Allah berfirman: barangsiapa yang menentang wali-Ku, ia telah menyatakan perang terhadap-Ku” (HR. Bukhari no. 6502).

Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:

إن لم يكن الفقهاء العاملون أولياء الله فليس لله ولي

“Jika para fuqaha (ulama) yang mengamalkan ilmu mereka tidak disebut wali Allah, maka Allah tidak punya wali” (diriwayatkan Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’i, dinukil dari Al Mu’lim hal. 21).

Urgensi adab penuntut ilmu

1. Adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong mendapatkan ilmu

Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan:

علم بلا أدب كنار بلا حطب، و أدب بلا علم كروح بلا جسد

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” (Adabul Imla’ wal Istimla’ [2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [10]).

Yusuf bin Al Husain rahimahullah mengatakan:

بالأدب تفهم العلم

“Dengan adab, engkau akan memahami ilmu” (Iqtidhaul Ilmi Al ‘Amal [31], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).

Sehingga belajar ada sangat penting bagi orang yang mau menuntut ilmu syar’i. Oleh karena itulah Imam Malik rahimahullah mengatakan:

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Belajarlah adab sebelum belajar ilmu” (Hilyatul Auliya [6/330], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17])

2. Adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong berkahnya ilmu

Dengan adab dalam menuntut ilmu, maka ilmu menjadi berkah, yaitu ilmu terus bertambah dan mendatangkan manfaat.

Imam Al Ajurri rahimahullah setelah menjelaskan beberapa adab penuntut ilmu beliau mengatakan:

حتى يتعلم ما يزداد به عند الله فهما في دينه

“(hendaknya amalkan semua adab ini) hingga Allah menambahkan kepadanya pemahaman tentang agamanya” (Akhlaqul Ulama [45], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [12]).

3. Adab merupakan ilmu dan amal

Adab dalam menuntut ilmu merupakan bagian dari ilmu, karena bersumber dari dalil-dalil. Dan para ulama juga membuat kitab-kitab dan bab tersendiri tentang adab menuntut ilmu. Adab dalam menuntut ilmu juga sesuatu yang mesti diamalkan tidak hanya diilmui. Sehingga perkara ini mencakup ilmu dan amal.

Oleh karena itu Al Laits bin Sa’ad rahimahullah mengatakan:

أنتم إلى يسير الأدب احوج منكم إلى كثير من العلم

“Kalian lebih membutuhkan adab yang sedikit, dari pada ilmu yang banyak” (Syarafu Ash-habil Hadits [122], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).

4. Adab terhadap ilmu merupakan adab kepada Allah dan Rasul-Nya

Sebagaimana dalil-dalil tentang memuliakan ilmu dan ulama yang telah kami sebutkan.

5. Adab yang baik merupakan tanda diterimanya amalan

Seorang yang beradab ketika menuntut ilmu, bisa jadi ini merupakan tanda amalan ia menuntut ilmu diterima oleh Allah dan mendapatkan keberkahan. Sebagian salaf mengatakan:

الأدب في العمل علامة قبول العمل

“Adab dalam amalan merupakan tanda diterimanya amalan” (Nudhratun Na’im fi Makarimi Akhlaqir Rasul Al Karim, 2/169).

60 adab penuntut ilmu syar’i

Berikut ini 60 adab-adab bagi penuntut ilmu syar’i yang kami sarikan dari kitab Al Mu’lim fi Adabil Mu’allim wal Muta’allim karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdil Lathif Alu Asy Syaikh rahimahullah.

  1. Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Semata-mata hanya mengharap wajah Allah Ta’ala, bukan tujuan duniawi. Seorang yang menuntut ilmu dengan tujuan duniawi diancam dengan adzab neraka Jahannam.
  2. Hendaknya memiliki percaya diri yang kuat.
  3. Senantiasa menjaga syiar-syiar Islam dan hukum-hukum Islam yang zahir. Seperti shalat berjamaah di masjid, menebarkan salam kepada yang dikenal maupun tidak dikenal, amar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar ketika mendapatkan gangguan dalam dakwah
  4. Berakhlak dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang dianjurkan dalam nash-nash syariat. Yaitu hendaknya penuntut ilmu itu: zuhud terhadap dunia, dermawan, berwajah cerah (tidak masam), bisa menahan marah, bisa menahan gangguan dari masyarakat, sabar, menjaga muru’ah, menjauhkan diri dari penghasilan yang rendahan, senantiasa wara, khusyuk, tenang, berwibawa, tawadhu’, sering memberikan makanan, iitsar (mendahulukan orang lain dalam perkara dunia) namun tidak minta didahulukan, bersikap adil, banyak bersyukur, mudah membantu hajat orang lain, mudah memanfaatkan kedudukannya dalam kebaikan, lemah lembut terhadap orang miskin, akrab dengan tetangga
  5. Senantiasa menunjukkan pengaruh rasa takut kepada Allah dalam gerak-geriknya, pakaiannya dan seluruh cara hidupnya
  6. Senantiasa merutinkan adab-adab Islam dalam perkataan dan perbuatan, baik yang nampak maupun tersembunyi. Seperti tilawah Al Qur’an, berdzikir, doa pagi dan petang, ibadah-ibadah sunnah, dan senantiasa memperbanyak shalawat
  7. Membersihkan dirinya dari akhlak-akhlak tercela, seperti: hasad (dengki), riya, ujub (kagum pada diri sendiri), meremehkan orang lain, dendam dan benci, marah bukan karena Allah, berbuat curang, sum’ah (ingin didengar kebaikannya), pelit, bicaranya kotor, sombong enggan menerima kebenaran, tamak, angkuh, merasa tinggi, berlomba-lomba dalam perkara duniawi, mudahanah (diam dan ridha terhadap kemungkaran demi maslahat dunia), menampakkan diri seolah-olah baik di hadapan orang-orang, cinta pujian, buta terhadap aib diri, sibuk mengurusi aib orang lain, fanatik golongan, takut dan harap selain kepada Allah, ghibah, namimah (adu domba), memfitnah orang, berdusta, berkata jorok.
  8. Menjauhkan diri dari segala hal yang rawan mendatangkan tuduhan serta tidak melakukan hal-hal yang menjatuhkan muru’ah.
  9. Zuhud terhadap dunia dan menganggap dunia itu kecil, tidak terlalu bersedih dengan yang luput dari dunia, sederhana dalam makanannya, pakaiannya, perabotannya, rumahnya.
  10. Menjaga jarak dengan para penguasa dan hamba-hamba dunia, dalam rangka menjaga kemuliaan ilmu. Sebagaimana dilakukan para salaf terdahulu. Jika memang ada kebutuhan untuk itu maka hendaknya ketika ada maslahat yang besar disertai niat yang lurus.
  11. Sangat-sangat menjauhkan diri dari perkara-perkara bid’ah, walaupun sudah menjadi kebiasaan mayoritas orang.
  12. Perhatian dan fokus utamanya adalah mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk akhiratnya. Menjauhkan diri dari ilmu yang tidak bermanfaat.
  13. Mempelajari apa saja yang bisa merusak amalan, kemudian menjauhinya.
  14. Makan makanan dengan kadar yang sedikit saja, dari makanan yang halal dan jauh dari syubhat. Ini sangat membantu seseorang untuk memahami agama dengan baik.
  15. Banyaknya makan menyebabkan kantuk, lemah akal, tubuh loyo, dan malas.
  16. Mempersedikit makan makanan yang bisa menyebabkan lemah akal dan memperbanyak makanan yang menguatkan akal seperti susu, mushtoka, kismis dan lainnya.
  17. Mempersedikit waktu tidurnya, selama tidak membahayakan tubuhnya. Hendaknya tidur sehari tidak lebih dari 8 jam. Tidak mengapa penuntut ilmu merelaksasikan jiwa, hati, pikiran dan pandangannya jika merasa lelah (dalam aktifitas belajar) atau merasa lemah untuk melanjutkan. Dengan melakukan refreshing dan rekreasi sehingga ia bisa kembali fit dalam menjalankan aktifitasnya lagi. Namun tidak boleh membuang-buang waktunya untuk itu (liburan).
  18. Senantiasa bersungguh-sungguh untuk menyibukkan diri dengan ilmu, baik dengan membaca, menelaah, menghafal, mengulang pelajaran dan aktifitas lainnya
  19. Aktifitas-aktifitas yang lain dan juga sakit yang ringan, hendaknya tidak membuat seorang penuntut ilmu bolos menghadiri kajian atau lalai dari membaca dan mengulang pelajaran.
  20. Bersungguh-sungguh untuk bersuci dari hadats dan najis ketika menghadiri kajian, badan dan pakaiannya dalam keadaan bersih serta wangi. Menggunakan pakaiannya yang terbaik, dalam rangka untuk mengagungkan ilmu.
  21. Bersungguh-sungguh untuk menjauhkan diri dari sikap minta-minta kepada orang lain walaupun dalam kondisi sulit
  22. Mempersiapkan diri, memikirkan dan merenungkan hal yang ingin disampaikan sebelum diucapkan agar tidak terjatuh dalam kesalahan. Terlebih jika ada orang yang hasad kepadanya atau orang yang memusuhinya yang akan menjadikan ketergelincirannya sebagai senjata.
  23. Tidak bersikap sombong dengan enggan mengambil ilmu dan faidah dari orang yang lebih rendah kedudukannya atau lebih muda usianya atau lebih rendah nasabnya atau kurang populer atau lebih rendah ilmunya dari kita
  24. Tidak malu bertanya tentang masalah yang belum diketahui
  25. Taat kepada kebenaran dan rujuk kepada kebenaran ketika keliru, walaupun yang mengoreksi kita adalah penuntut ilmu pemula
  26. Meninggalkan debat kusir dan adu argumen
  27. Membersihkan hatinya dari kotoran-kotoran hati, agar hatinya bisa menerima ilmu dengan baik
  28. Memanfaatkan dengan baik waktu-waktu senggang dan waktu-waktu ketika badan fit. Juga memanfaatkan dengan baik waktu muda dan otak masih cemerlang.
  29. Memutuskan dan menghilangkan hal-hal yang menyibukkan sehingga lalai dari menuntut ilmu, atau penghalang-penghalang yang membuat menuntut ilmu tidak maksimal
  30. Senantiasa mengedepankan sikap wara (meninggalkan yang haram, makruh dan syubhat) dalam semua hal. Memilih makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal yang dipastikan halalnya.
  31. Mengurangi sikap terlalu banyak bergaul, terutama dengan orang-orang yang banyak main-mainnya dan sedikit seriusnya. Hendaknya ia tidak bergaul kecuali dengan orang-orang yang bisa ia berikan manfaat atau bisa mendapatkan manfaat dari mereka.
  32. Bersikap hilm (tenang) dan anah (hati-hati dalam bersikap) serta senantiasa sabar
  33. Hendaknya senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu dan menjadikan aktifitas menuntut ilmu sebagai rutinitasnya di setiap waktunya, baik ketika tidak safat ataupun ketika safar
  34. Hendaknya memiliki cita-cita yang tinggi untuk akhirat. Tidak hanya puas dengan sesuatu yang sedikit jika masih mampu menggapai yang lebih. Dan tidak menunda-nunda dalam belajar, bersemangat mencari faidah ilmu walaupun sedikit
  35. Tidak berpindah ke kitab yang lain sebelum menyelesaikan dan menguasai kitab yang sedang dipelajari
  36. Tidak mempelajari pelajaran yang belum dimampui. Belajar dari yang sesuai dengan kadar kemampuannya
  37. Selektif dalam memilih guru. Carilah guru yang mapan ilmunya, terjaga wibawanya, dikenal keistiqamahannya, bagus pengajarannya.
  38. Memandang gurunya dengan penuh pemuliaan dan penghormatan
  39. Memahami hak-hak gurunya, senantiasa ingat akan keutamaan gurunya, dan bersikap tawadhu’ di hadapan gurunya
  40. Senantiasa mencari keridhaan gurunya, merendahkan diri ketika ingin mengkritik gurunya, tidak mendahului gurunya dalam berpendapat, mengkonsultasikan semua masalah dengan gurunya, dan tidak keluar dari arahan-arahannya
  41. Memuji ceramah dan jawaban-jawaban gurunya baik ketika ada gurunya atau ketika sedang tidak ada
  42. Menghormati gurunya dengan penuh pengagungan, senantiasa mengikuti arahannya, baik ketia beliau masih hidup ataupun ketika beliau sudah wafat. Senantiasa mendoakan beliau. Dan membantah orang yang meng-ghibah beliau.
  43. Berterima kasih kepada gurunya atas ilmu dan arahannya
  44. Bersabar dengan sikap keras dari gurunya atau terhadap akhlak buruknya. Dan hal-hal ini hendaknya tidak membuatnya berpaling dari belajar ilmu dan akidah yang lurus dari gurunya tersebut.
  45. Bersegera untuk menghadiri majlis ilmu sebelum gurunya hadir
  46. Tidak menghadiri majlis sang guru di luar majelis ilmu yang diampunya, kecuali atas seizin beliau
  47. Hendaknya menemui gurunya dalam keadaan penampilan yang sempurna, hatinya tidak sibuk dengan hal-hal lain, jiwanya lapang, pikiran juga jernih. Bukan ketika sedang mengantuk, sedang marah, sedang lapar, haus atau semisalnya
  48. Tidak meminta gurunya untuk mengajarkan kitab di waktu-waktu yang menyulitkan beliau
  49. Tidak belajar kepada guru di waktu-waktu sang guru sedang sibuk, bosan, sedang kantuk, atau semisalnya yang membuat beliau kesulitan memberikan syarah (penjelasan) yang sempurna
  50. Jika menghadiri majelis ilmu, namun gurunya belum datang, maka tunggulah
  51. Duduk di majelis ilmu dengan penuh ada, penuh tawadhu, dan khusyuk
  52. Duduk di majelis ilmu dalam keadaan tidak bersandar pada tembok atau pada tiang.
  53. Memfokuskan dirinya untuk memandang gurunya dan mendengarkan perkataan gurunya, memikirkannya benar-benar sehingga gurunya tidak perlu mengulangnya.
  54. Tidak menengok ke arah lain kecuali darurat, dan tidak menghiraukan suara-suara lain kecuali darurat. Tidak meluruskan kakinya. Tidak menutup mulutnya. Tidak memangku dagunya. Tidak terlalu banyak menguap. Tidak membunyikan dahaknya sebisa mungkin. Tidak banyak bergerak-gerak, hendaknya berusaha tenang. Jika bersih hendaknya merendahkan suaranya atau menutupnya dengan sapu tangan
  55. Tidak meninggikan suaranya tanpa kebutuhan dan tidak berbicara kecuali darurat. Tidak tertawa-tawa kecuali ketika kagum jika tidak kuat menahan tawa hendaknya tersenyum saja.
  56. Ketika berbicara kepada gurunya hendaknya menghindarkan diri dari gaya bicara yang biasa digunakan kepada orang secara umum
  57. Jika gurunya terpeleset lisannya, atau gurunya menjelaskan perkara yang agak vulgar, jangan menertawakannya atau mencelanya
  58. Tidak mendahului gurunya dalam menjelaskan suatu masalah atau dalam menjawab pertanyaan
  59. Tidak memotong perkataan gurunya atau mendahuluinya dalam berbicara, dalam pembicaraan apapun
  60. Jika ia mendengar gurunya menjelaskan suatu faidah atau suatu pelajaran yang ia sudah ketahui, maka dengarkanlah dengan penuh gembira, belum pernah mengetahuinya sebelumnya
  61. Hendaknya tidak bertanya yang di luar konteks bahasan
    Tidak malu untuk bertanya kepada gurunya atau meminta penjelasan tentang hal yang belum ia pahami

Demikian paparan singkat mengenai adab menuntut ilmu. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah untuk mengamalkannya.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Penulis: Yulian Purnama

AMALKU BUAH DARI ILMU (Bag.5)

Bismillah…

Kelima, para salafussholih bergegas mengamalkan ilmu.

Diantara pemaparan yang dapat memperjelas pentingnya topik ini adalah, kisah para salaf dalam hal bergegasnya mereka mengamalkan ilmu sangat menakjudkan. Tidak cukup di sini, mereka juga dapat istiqomah mengamalkan setiap ilmu yang mereka dapat. Begitu mendengarnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam atau mendengar hadis beliau shallallahu’alaihi wa sallam, langsung mereka amalkan dan mereka dapat istiqomah mengamalkannya. Kisah mereka dalam hal ini sangat mengagumkan.

Belajar dari Para Sahabat

Banyak riwayat yang menerangkan perhatian dan kesadaran mereka dalam mengamalkan ilmu sangat besar. Diantaranya kisah-kisah berikut :

Kisah Fatimah radhiyallahu’anha puteri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana yang terekam dalam hadis Ali radhiyallahu’anhu, terdapat dalam Shahih Bukhori (no. 5362) dan Shahih Muslim (no. 2727). Ketika Fatimah curhat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta pembantu. Lantas Nabi memberinya petuah,

أولا أدلك على ما هو خير لك من خادم؟! إذا أويت إلى فراشك تسبحين الله تعالى ثلاثاً وثلاثين، وتحمدينه ثلاثاً وثلاثين، وتكبرينه أربعاً وثلاثين

Maukah kamu saya beritahu suatu hal yang lebih baik dari pembantu?! Jika kamu beranjak tidur bertasbihlah 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x.

Setelah mendengar pesan ini, Ali radhiyallahu’anhu mengatakan,

فما تركتها منذ سمعتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم

Semenjak saya mendengarnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, tak pernah sekalipun saya tinggalkan.

Seorang bertanya kepada, “Sampaipun saat malam hari perang Sifin?” Yaitu peperangan yang sangat terkenal, yang tentu saja kondisi sedang berkecamuk. Namun apakah Ali meninggalkan petuah Nabi yang mulia ini? Kita simak jawaban Ali radhiyallahu’anhu,

ولا ليلة الصفين

“Sampaipun malam hari perang sifin, dzikir ini tidak aku tinggalkan !!”

Kisah berikutnya diriwayatkan oleh Dawud bin Abu Hindun, dari Nu’man bin Salim, dari Amr bin Aus beliau menceritakan,” ‘Anbasah bin Abu Sufyan menyampaikan sebuah hadis saat beliau mengalami sakit yang beliau meninggal dunia karena penyakit tersebut, “Aku mendengar Ummu Habibah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً في يوم وليلة بني لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang mengerkan shalat sebanyak 12 raka’at (shalat sunah rawatib), maka akan Allah bangunkan untuknya rumahnya di surga.”

Mendengar pesan agung ini, Ummu Habibah mengatakan,”Semenjak aku mendengar pesan ini dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!”

Kemudian sikap Ummu Habibah dicontoh oleh ‘Anbasah, ”Semenjak aku mendengar pesan ini dari Ummu Habibah, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!”

Terus diikuti oleh para perawi setelah beliau, Amr bin Aus,”Semenjak aku mendengar pesan ini dari ‘Anbasah, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!”

Nu’man bin Salim mengatakan, ”Semenjak aku mendengar pesan ini dari Amr bin Salim, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!”

(HR. Muslim, no. 722)

Kisah senada dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu’anhu, berliau pernah mengtakan,

أوصاني حبيحبي صلى الله عليه وسلم بثلاث لن أدعهن ما عشت

“Kekasihku shallallahu’alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku 3 hal, yang tak akan aku tinggalkan selama hidupku…” Kemudian beliau menyebutkan wasiat-wasiat itu. (HR. Muslim, no. 728)

Berikutnya kisah sahabat belia yang bernah Umar bin Abi Salamah radhiyallahu’anhu, beliau sendiri bercerita,

كنت غلاما في حجر رسول الله صلى الله عليه وسلم, وكانت يدي تطيش في الصحفة, فقال لي : يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك

“Saat aku masih kanak-kanak, aku berada di asuhan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika itu saat aku makan, tanganku berkelana kemana-mana di nampan. Kemudian Nabi menasehatiku, “Ucapkan bismillah nak… makanlah dengan tangan kananmu kemudian makanlah makanan yang terdekat denganmu.” (HR. Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 2022).

Dalam riwayat Bukhori ditambahkan,

فما زالت تلك طعمتي بعد

“Semenjak itu, cara makanku seperti yang dinasehatkan Nabi.”

Coba perhatikan di sini, biasanya anak-anak tak cukup sekali duakali untuk bisa menerima arahan. Namun lihat sahabat belia ini, cukup sekali nasehat langsung beliau kerjakan.

“Semenjak itu, cara makanku seperti yang dinasehatkan Nabi…”

Kisah ini satu sisi menunjukkan kesegeraan mereka dalam mengamalkan ilmu, kemudian sisi yang lain menunjukkan kontinyu mereka dalam mengamalkan ilmu.

Belajar dari Generasi Setelah Sahabat

Kisah-kisah tak kalah menarik juga dari orang-orang hebat di generasi setelah sahabat.

Diantaranya ucapan Sufyan Ats-Tsauri radhiyallahu’anhu,

ما بلغني حديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم الا عملت به

Tak satupun hadis dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam sampai kepadaku melainkan aku amalkan.

Amr bin Qois mengatakan,

اذا بلغك الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعمل به ولو مرة تكن من أهله

Jika ada hadis Rasulullah shallallahualaihi wa sallam sampai kepadamu maka amalkan meski hanya sekali, niscaya anda akan menjadi ahli dalam mengamalkan hadis itu.

Amalkan walau sekali, maksudnya hadis-hadis yang menerangkan amalan sunah. Adapun amalan wajib, tidak cukup dengan mengamalkan sekali kemudian dia bisa disebut ahlinya.

Berikutnya, kisah yang dinukil oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah, dari guru beliau; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ketika Syaikhul Islam mendengar hadis dari Ibnul Qoyyim, yakni hadis dari sahabat Abu Umamah, Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

من قرأ أية الكرسي دبر كل صلاة لم تكن بينه و بين الجنة الا أن يموت

Siapa yang membaca ayat kursi setiap kali selesai sholat, maka tak ada yang menghalaginya dengan surga kecuali kematian.

Ibnul Qoyyim menceritakan,

بلغني عن شيخ الاسلام ابن تيمية أنه قال : ما تركتها عقيب كل صلاة

Sampai informasi kepadaku bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Aku tidak pernah tinggalkan setiap selesai sholat.” (Zadul Ma’ad 1/285).

Kisah Imam Ahmad rahimahullah juga tak kalah berkesan, beliau pernah mengatakan, “Tak satupun hadis saya tulis di bab-bab kitab Musnad”; sebuah kitab karya beliau yang sangat tebal dan sangat banyak hadisnya, beliau mengatakan,” Tak satupun hadis saya tulis melainkan aku amalkan. Sampai aku mendengar bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam pernah berbekam, lalu beliau beliau memberi uang sebesar satu dinar kepada pembekam. Maka akupun berbekam lalu pembekam saya beri satu dinar.”

Inilah kisah para salafussholih dalam kesungguhan, keistiqomahan dan besarya perhatian mereka terhadap mengamalkan ilmu serta kontinyu dalam pengalaman ilmu.

Semoga Allah merahmati kita dan mereka semua…

***

Merujuk pada : Tsamaroh Al-Ilmi Al-Amal, karya Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al-‘Abbad –hafidzohumallah-.

Ditulis olehAhmad Anshori

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu 4 : Jangan Mubadzirkan Semangat Belajarmu

Bismillah…

Mubadzir itu, saat kita kerahkan semua minat dan semangat belajar, hanya kepada ilmu-ilmu duniawi, tanpa sedikitpun dikerahkan untuk belajar ilmu agama.

Sangat merugi, ketika kita ahli di suatu bidang duniawi, bertahun-tahun giat mempelajari, tapi kita tidak tahu apa pentingnya tauhid? Apa bahayanya syirik? Apa makna Laa ilaa ha illallah? Bagaimana cara sholat yang benar? Zakat yang benar? Puasa yang benar? Apa hari kiamat, surga dan neraka?

Ini kenyataan yang harus disesali dan segera diakhiri. Karena seharusnya kita tersindir dengan ayat ini…

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai. (QS. Ar-Rum : 7)

Pesan ini bukan untuk melemahkan semangat belajar ilmu-ilmu duniawi.(1)
Namun… untuk mengingatkan tentang skala prioritas dalam belajar. Jangan abaikan Ilmu yang menjadi kewajiban mu. Ilmu yang akan membantumu dapat menjawab pertanyaan kubur nanti

Karena kita menyadari bahwa dunia ini sebentar, umur kita di dunia terbatas. Yang kekal dan perlu bekal banyak adalah kehidupan setelah ini. Tak mungkin kita bisa maksimal dan efektif dalam mengumpulkan bekal itu, kalau tidak pakai ilmu.

Maka sangat diperlukan ilmu untuk mengetahui jalan yang Allah ridho dan yang tidak. Ilmu yang akan membentuk takwa, khosyah (rasa takut kepada Allah), mengharap rahmadNya, akhlak kepada Tuhan dan kepada sesama makhluk, cinta serta pengagungan kepada Tuhan semesta alam, dalam jiwa kita, melalui wahyu-wahyu yang Allah turunkan.. yang dengan karakter-karakter iman inilah, menjadi modal kita mengumpulkan bekal. Bahkan sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Jadi, silahkan belajar ilmu apa saja asal manfaat dan tidak menyelisihi syariat. Namun, jangan abaikan Ilmu tentang mengenal Tuhanmu, Nabimu dan agamamu. Berikan juga porsi minat dan semangat yang besar untuk ilmu ini.

Karena ilmu agama sebenarnya adalah sumber semua ilmu yang manfaat. Dan itu yang pokok dan wajib. Adapun selain ilmu itu, statusnya sebagai tambahan atau sarana membantu memantapkan agamamu. Maka bukan sikap yang bijak, saat seorang sibuk pada yang statusnya tambahan, lalu dia melalaikan yang pokok.

Syekh Sholih bin Abdullah Al ‘Ushoimi menegaskan,

إن كل علم نافع مرده إلى كلام الله وكلام رسوله صلى الله عليه وسلم، وباقي العلوم : إما خادم لهما فيؤخذ منه ما تتحقق به الخدمة أو أجنبي عنهما فلا يضر الجهل به

Semua ilmu yang manfaat, sumbernya adalah firman Allah (Alqur’an) dan sabda RasulNya shalallahu alaihi wa sallam (As-Sunnah). Adapun ilmu yang lain fungsinya adalah :
– bisa menjadi pembantu bagi ilmu Al Qur’an dan Sunnah, sehingga dipelajari sekadar tercapainya fungsi tersebut.
– Atau ilmu yang samasekali tidak berkaitan dengan Al Qur’an dan as Sunnah. Sehingga tidak mengetahuinya, tak membahayakan.

(Lihat : Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, hal. 19)B

Ilmu yang Dominan Di Masa para Salaf

Dalam mencari teladan cara beragama, yang paling tepat adalah memutar waktu ke belakang, menengok bagaimana para sahabat, tabi’in dan para ulama klasik dahulu beragama. Karena mereka berada tidak jauh dari masa keemasan iman; masanya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Tepat sekali isi wasiat Imam Malik rahimahullah ini,

لن يُصلِحَ آخرَ هذه الأمة إلا ما أصلَحَ أولَها

Umat ini tidak akan menjadi baik, kecuali dengan sarana yang dapat menjadikan baik umat pertama mereka baik.

Karena orang yang cerdas dan bijak, selalu belajar dari yang terbaik.

Jika kita kaji sejarah hidup mereka, maka akan terlihat bahwa mereka memegang prinsip indah : memberi porsi yang besar untuk ilmu agama. Ilmu yang akan membentuk akidah, iman, takwa dan akhlak mereka.B

Bukan berarti mengabaikan sama sekali ilmu duniawi. Namun sekali lagi, ini soal skala prioritas dalam belajar, tidak boleh diabaikan.

Syekh Sholih bin Abdullah Al ‘Ushoimi menegaskan,

وقد كان هذا هو علم السلف -عليهم رحمة الله- ثم كثر الكلام بعدهم فيما لا ينفع, فالعلم في السلف أكثر والكلام فيمن بعدهم أكثر

Inilah ilmunya para salaf dahulu -semoga Allah merahmati mereka- (pent, mereka memprioritaskan ilmu agama). Kemudian, tibalah zaman dimana yang banyak (prioritas) adalah ucapan yang tak manfaat (pent, memprioritaskan ilmu lain). Maka di masa salaf dahulu, ilmu lebih mendominasi, adapun setelah generasi mereka, ucapan kurang manfaat yang mendominasi.

(Lihat : Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, hal. 19)

“Kemudian, tibalah zaman dimana yang banyak (prioritas) adalah ucapan yang tak manfaat.”

Ungkapan ini menyinggung kondisi sebuah generasi dimana ilmu agama dikucilkan, ilmu dunia diprioritaskan. Sehingga karena prioritas yang tertukar ini, ilmu dunia yang bisa jadi pada asalnya mengandung manfaat, karena dia mengabaikan yang lebih wajib, menjadi ilmu yang ibaratnya ucapan yang tak manfaat. Artinya ilmu itu tak lagi dianggap untuk pelakunya, saat dia mengabaikan ilmu yang wajib diketahui tentang agamanya.


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu #3 : Optimalkan Minat

Bismillah…

Menuntut ilmu itu berat. Perlu berbekal minat yang kuat untuk dapat meraih ilmu. Karena, sebenarnya gerak-gerik manusia dinahkodai oleh minat yang bersemayam hatinya. Kalau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, membahasakan minat sebagai cinta. Hampir tidak berbeda, antara minat dan cinta. Beliau pernah menuliskan nasehat yang sangat terkenal,

وأصل كل فعل وحركة في العالم من الحب والإرادة فهو أصل كل فعل ومبدؤه

Sumber semua tindakan di alam ini adalah cinta dan keinginan. Dialah asal semua perbuatan dan juga prinsipnya.

Tak ada minat yang besar atau rasa haus ilmu yang mendalam, perjuangan seorang dalam menuntut ilmu tak akan bisa bertahan lama. Ia akan cepat kandas. Ibarat pepatah,

Hangat-hangat tahi ayam…

Bagaimana Menumbuhkan Minat Tinggi dalam Menuntut Ilmu?

Syaikh Sholih Al Ushoimi -hafidzohullah- menjelaskan kiatnya, bahwa seorang akan dapat menumbuhkan minat yang besar dalam belajar, jika dia melakukan tiga hal ini :

Pertama, semangat juang yang tinggi, dalam meraih segala yang manfaat di dunia dan akhirat.

Kedua, meminta pertolongan kepada Allah agar disukseskan dalam menuntut ilmu.

Ketiga, tidak patah semangat untuk terus berjuang meraih mimpinya.

Tiga hal ini, terkumpul dalam satu sabda yang mulia Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

احرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ …

“Semangatlah dalam meraih sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah (mudah putus asa)!”

(HR. Muslim, no. 2664, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu)B

Pesan ini telah dibuktikan oleh para ulama. Sehingga kita dapati petuah-petuah indah dari lisan mereka yang menguatkan hadis di atas.

Diantaranya Al-Junaid rahimahullah pernah berpetuah,

ما طلب أحد شيئا بجد وصدق إلا ناله، وإن لم ينله كله نال بعضه

“Tidaklah seseorang berjuang meraih sesuatu dengan kesungguhan dan kejujuran, melainkan dia akan dapat memperolehnya. Jika dia tidak dapat meraih seluruhnya, dia akan dapat meraih sebagiannya.”

Dan, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga pernah berpesan dalam kitab Al-Fawaid,

إذا طلع نجم الهمة في ظلام ليلة البطالة، وردفه قمر العزيمة، أشرقت الأرض بنور ربها

“Jika telah terbit ‘bintang’ semangat di gelapnya malam, ditemani oleh ‘rembulan’ tekad, niscaya keduanya dapat menyinari dunia dengan cahaya Tuhannya.”

Belajar dari Kisah Menuntut Ilmu Para Ulama

Mereka orang-orang yang unggul dalam ilmu dan takwa itu, ternyata hasil dari perjuangan yang tidak ringan. Siang dan malam tanpa kenal lelah dan putus asa, mereka berjuang mendapatkan ilmu. Bukti bahwa ambisi mereka besar dalam menuntut ilmu.

Berikut kisah-kisah manusia hebat itu yang ditulis oleh guru kami Syaikh Sholih Al Ushoimi -hafidzohullah- dalam buku beliau : Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi :

Kisah Imam Ahmad rahimahullah, di masa kecil, sebelum fajar subuh tiba, Ibunya menyiapkan perlengkapan belajar putra kesayangannya sebelum menghadiri pengajian para ulama di masanya. Sambil memakaikan baju sang anak, Ibu Imam Ahmad berpesan,

حتى يؤذن الناس أو يصبحوا

“Tunggulah di masjid (tempat kajian), sampai orang-orang mengumandangkan azan subuh atau melakukan sholat subuh.

Khotib al-Baghdadi pernah membaca seluruh isi kitab Shohih Bukhari, di hadapan guru beliau Ismail Al Hurri, selama 3 pertemuan. Dua diantaranya di dua malam hari, dimulai dari Maghrib sampai subuh. Kemudian pertemuan ketiga, dari siang hari sampai tiba waktu Maghrib. Lalu dilanjutkan kembali dari Maghrib sampai subuh.

Abu Muhammad bin Tabban di awal masa belajarnya, beliau menggunakan seluruh malam untuk belajar. Sampai Ibu beliau melarang membaca di malam hari, karena sayang dan ibanya. Abu Muhammad lantas menuruti perintah ibunya. Namun, sebelum tidur, beliau menyembunyikan lampu sentir di dalam mangkuk besar. Kemudian saat dia sudah tertidur beberapa saat dan sang Bunda sudah terlelap tidur, beliau nyalakan lampu itu untuk belajar kembali.

Syaikh Sholih Al Ushoimi -hafidzohullah- menutup kisah-kisah indah di atas dengan ungkapan yang sangat berkesan,

فكن رجلا رجله على الثرى ثابتة، وهامة هامته فوق الثريا سامقة، ولا تكن شاب البدن أشيب الهمة، فإن همة الصادق لا تشيب

“Jadilah kamu orang yang kakinya menginjak di muka bumi, akan tetapi cita dan mimpinya setinggi bintang kejora. Jangan menjadi anak muda yang hanya muda fisiknya, namun tua semangatnya. Sesungguhnya, tekad yang jujur itu, tidak akan pernah menua (meskipun fisik sudah menua).”

Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu : #2 Ikhlaskan Niatmu

Bismillah..

Kita semua menyadari, bahwa ikhlas adalah syarat yang tak bisa ditawar agar amal ibadah kita diterima Allah, disamping juga harus bersama syarat yang kedua yaitu sesuai tuntunan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- (Mutaaba’ah). Dan tak ada seorang muslimpun yang meragukan, bahwa menuntut ilmu agama, mempelajari ilmu untuk mengenal syariat Allah, adalah amal ibadah yang luar biasa istimewa. Bagaimana tidak, sementara seluruh ibadah butuh pada ilmu?! Tanpa ilmu, kita buta dalam beribadah. Bisa-bisa seorang meyakini suatu amalan adalah ibadah, padahal tak sedikitpun bernilai ibadah di mata Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ

Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim).

Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga, kemudian masih diragukan sebagai ibadah?!

Mustahil…!

Maka sepatutnya para penuntut ilmu menyadarkan hatinya, menghiasi hatinya, dengan semerbak niat dan rasa, bahwa saat ia sedang berjuang menuntut ilmu, saat itulah ia sedang berada dalam ibadah yang sangat agung. Ini sebenarnya dapat menjadi motivasi yang sangat manjur, agar selalu bisa semangat dan istiqomah dalam menuntut ilmu.

Setelah kita meyakini, bahwa menuntut ilmu adalah ibadah, maka ketahuilah sahabat sekalian, bahwa menuntut ilmu juga butuh keikhlasan. Agar lelah letih yang kita jalani dalam masa belajar ini, berbuah pahala dan rahmad Allah yang agung. Berbuah surganya yang mulia.

Allah berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan segala ibadah hanya untuk-Nya (Ikhlas), dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-bayyinah : 5)

Dan.. ilmu yang kita peroleh terberkahi.

Syaikh Sholih Al-Ushoimi -hafidzahullahا- menasehatkan,

وما سبق من سبقو ولا وصل من وصل من السلف الصالحينو الا بالاخلاص لله رب العالمين

Tidaklah para salafussholih itu unggul dan sampai pada derajat ilmu (yang tinggi), melainkan karena sebab ikhlasnya mereka saat menuntut ilmu, karena mengharap pahala Allah tuhan semesta alam.

(Lihat : Khulashoh Ta’dhiimil ‘Ilmi, hal. 11)

Anda ingin benar dimuliakan oleh ilmu, ternyata ikhlaslah kuncinya.

Bahkan, Syaikh Sholih Al-‘Ushoimi masih dihalaman yang sama dari kitab Khulashoh Ta’dhiimil ‘Ilmi, sampai mengatakan,

وانما ينال المرء العلم على قدر اخلاصه

Seorang itu mendapatkan jatah ilmu, sebanyak kadar ikhlasnya.

Bagaimana Cara Ikhlas Dalam menuntut Ilmu?

Pertanyaan sangat bagus. Setelah kita tahu bahwa ikhlas adalah syarat mutlak diterimanya ibadah menuntut ilmu kita di sisi Allah, dan menjadi sebab berkahnya ilmu yang kita dapat, iman dalam hati kita membuat jiwa ini penasaran,

Apa gerangan cara agar menuntut ilmuku ikhlas?

Berikut ini caranya :

Niatkanlah menuntut ilmu anda untuk :

Pertama, Mengusir kebodohan dari diri sendiri,

Kedua, Mengusir kebodohan dari orang lain, dengan mengajari mereka ilmu yang dapat memperbagus agama dan akhirat mereka.

Ketiga, Niatkan untuk menjaga kelestarian ilmu.

Keempat, Niatkan untuk mengamalkan ilmu.

Empat hal di atas, juga sudah menjadi niat kita dalam menuntut ilmu, saat itulah anda telah ikhlas dalam menuntut ilmu.

Mereka Tak Merasa Telah Ikhlas

Membaca kisah-kisah para salafussholih terdahulu memang menyimpan pesan-pesan unik dan mulia. Kita tak meragukan bagaimana ikhlas dan takwanya mereka -wala nuzakki ‘alallahi ahada-. Namun, sangat menarik sekali, mereka selalu saja meras belum ikhlas. Tak seorangpun diantara mereka yang berani bicara, “Aku sudah ikhlas..!!”

Imam Ahmad pernah ditanya, “Apakah anda telah menuntut ilmu ikhlas karena Allah?”

Jawaban beliau,

لله! عزيز, ولكنه شيء حبب إلي فطلبته

“Karena Allah?! Itu perkara besar!! Hanya saja, aku telah dibuat cinta kepada belajar. Sehingga aku terus menuntut ilmu.”

Ikhlas dalam menuntut ilmu, bukan perkara sepele. Kata Imam Ahmad, “ Aziiiz! Besaaar…!” Beliau tak sampai hati mengklaim diri beliau telah ikhlas.

Kenapa?

Ternyata justeru dengan merasa belum ikhlas seperti inilah, kita dapat ikhlas, dan dapat menjaga ikhlas.

Hati kita lemah, syahwat cinta pujian, cinta popularitas (riya’, ‘ujub dan sum’ah), begitu kuat menyambar-nyambar. Dia buas dan siaga, untuk mengoyak-oyak keikhlasan kita. Sampai seorang terkena ancaman megerikan ini :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan hanya mengharap wajah Allâh ‘Azza Wa Jalla, namun ternyata ia tidak menuntut ilmu kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium bau Surga pada hari Kiamat.

(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shahîh ath-Targhib, no. 105)

Lagi…!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mewanti-wanti :

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Siapa menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allâh akan memasukkannya ke neraka.

(HR. At-Tirmidzi, Shahîh at-Targhîb, no. 106)

Na’udzubillah min dzaalik…

Dengan menghadirkan perasaan inilah (merasa belum ikhlas), kita dapat selalu siaga dan waspada, terhadap musuh-musuh ikhlas, yaitu riya, ‘ujub dan sum’ah.

Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat pada th 161 H), sampai pernah mengatakan,

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي لأنها تتقلب عليَّ

“Aku tak pernah mengobati sesuatu yang lebih berat daripada memperbaiki niatku. Karena niatku terus berubah-ubah.”

Sulaiman Al Hasyimi mengungkapkan pengalamannya,

“Terkadang, saat aku menyampaikan satu hadits, dalam diriku hanya ada satu niat saja (ikhlas). Setelah aku beralih pada bagian hadits yang lain (masih dalam hadis yang sama), berubahlah niatku. Ternyata, untuk menyampaikan satu hadits saja butuh banyak perbaikan niat.”

(Lihat : (Lihat : Khulashoh Ta’dhiimil ‘Ilmi, hal. 13)

Lihatlah bagaimana waspadanya mereka…


Ditulis oleh : Ahmad Anshori Lc